“Beramai-ramai baik sendiri maupun berombongan menuju keramaian, berjalan kaki ada juga berkendara roda dua atau roda empat menuju pusat-pusat kota. Tidak perduli dengan kemacetan dan teriakan-teriakan juga bunyi-bunyian terompet yang memekakan telinga yang penting bahagia. Bahkan semua sanak keluarga di bawa menuju pusat-pusat kota untuk merayakannya, itulah tradisi menyambut Tahun Baru”.
Demikian besarnya antusias masyarakat dalam menyambut pergantian tahun, yang telah menjadi tradisi tahunan. Kejadian setahun sekali itu dimanfaatkan dengan berbagai kegiatan. Diantaranya Kelilig pusat-pusat kota, menggelar acara panggung hiburan, atau sekedar ngumpul bersama keluarga dengan membuat makanan spesial yang lengkap.
Pesta kembang api pun terjadi dimana-mana ketika jarum jam telah menunjukkan jam 00.01 am. Itulah tradisi yang sulit untuk dilupakan, dengan berbagai hingar bingar untuk menyongsong pergantian tahun yang baru. Merupakan pergantian Tahun Masehi.
Tidak bisa dipungkiri saya pun pernah mengalami hal tersebut, namun seiring dengan berjalannya waktu (wah serius
) hal-hal demikian malahan menjadi renungan bagi saya pribadi. Yang menjadi satu pertanyaan, kenapa Tahun Masehi selalu dirayakan begitu ramai sedangkan pergantian tahun baru Hijriyah (penanggalan Islam) tidak dibesar-besarkan. Padahal mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, tetapi larut dalam budaya barat. Kenapa juga saya tulis pada 31 Desember ya? tidak pada 1 Muharam 1430 H kemarin (29 M) ?
.
Tapi, saya tidak ambil pusing bukan berarti tidak peduli (berusaha mengelak
). Kebetulan pada malam pergantian tersebut secara tidak di sengaja kami berbincang-bincang dengan sodara dan teman yang lain. Berbagai pendapat tentang hal tersebut mereka kemukakan. Ada satu pendapat yang cukup menarik bagi saya, yaitu “Sekarang dengan berbagai media informasi yang mudah membuat pola pikir manusia juga berubah. salah satu nya mungkin dengan berbagai media barat yang begitu mudah dan selalu menjadi panutan. Mungkin pola pikir manusia nya harus diubah”.
“Dan pola pikir barat mungkin telah lebih banyak mengutamakan ke sifat materi dan keduniawian. Dan itu bisa saja melupakan hakikat hidup sebenarnya.” Lumayan panjang juga, namun kurang lebih setelah saya simak memang ada benarnya juga.
Jadi teringat ketika seorang ulama mengatakan bahwa pergantian tahun seyogyanya sebagai bahan untuk tafakaur. Sebagai bahan renungan apa saja yang telah kita lakukan di tahun sebelumnya dan kekurangan apa yang akan kita perbaiki di tahun depan. Terutama penghambaan kita kepada Tuhan, untuk selalu diperbaiki dari tahun ke tahun. Bahkan detik demi detik yang telah kita lalui.
Ya, itulah kenyataan yang ada. Ini hanya sekedar obrolan santai saja, mudah-mudahan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1430 H (29 Des 2008 M) Msebagai langkah awal yang baik dalam mengawali berbagai rutinitas kehidupan. Amien…

Popularity: 1% [?]


















“Beramai-ramai baik sendiri maupun berombongan menuju keramaian, berjalan kaki ada juga berkendara roda dua atau roda empat menuju pusat-pusat kota. Tidak perduli dengan kemacetan dan teriakan-teriakan juga bunyi-bunyian terompet yang memekakan telinga yang penting bahagia. Bahkan semua sanak keluarga di bawa menuju pusat-pusat kota untuk merayakannya, itulah tradisi menyambut Tahun Baru”.





